If I Can Turn Back Time…

No, it is not the lyric from that song.

It is just some random question I often think for myself, and throws to my colleagues, just to evaluate what is my biggest regret so far. And also what are the things my friend want to change if they have the chance.

I do believe that overtime people will change, for better or for worse. The wisdom, the understanding accrued through their lifetime will make their mind shifted. Their worldview change, their value will change, what they dear most will change, etc. It is just interesting to follow up what things that actually change and how, if I may put it poetically, life change them.

But I come into an understanding, that if you really want to know what are the best thing you should pursue, what are the value you should honor, maybe you should ask the senior citizen. I do believe that you at least can summarize the thing considered important.

Advertisements

Dedicating The Time

Just a few moments ago I caught my self this self-educating video from Ted Ed Channel on Youtube about how to practice effectively. Well, since I am quite novice about the topic discussed, I just presume that mostly what the video tell to us true. If you watch it you can learn the technique how to practice effectively such as start slowly but steadily increase the resistance, break the time of your practice into several slots of time so you can rest a bit (it work though. Have tried it), and imagine it vividly in your mind whatever you do.

Well to be honest, I’ve watched the video before. But somehow I skipped some precious information. It says, and if I may quote, “Studies have shown that many top athletes, musicians and dancers spend 50-60 hours per week on activities related to their craft…”. Well normally people will spend at least 40 hours per week working and if you had any other interest beside works, which you excellent at and you got paid for it, I just imagine would you sacrifice your spare time to do that?

I am a big believer that if you want to be pro at something, want to be excellent at something, you HAD TO SPENT TIME TO PRACTICING THAT. Take my life for example. Currently I am taking another weekend class to obtain master degree on Strategic Management while I am working in the same cities. I thought that it will be my greatest move since it is really hard to obtain such opportunities in my line of work (working on the mainland close to quite distinguished University in Indonesia) But somehow I rarely set some time for learning. In the end here I am, struggling with my thesis. Even until this time I rarely set time working on my thesis.

So, fellow, if you ever slightly thinking about obtaining some new skill or set of skill or set of knowledge, I think it would be wise to questioning yourself these two questions first:

Do I have time for that?

and

Do I willingly set aside some of my time for that?

What’s the question?

Gak bisa dipungkiri lagi, internet saat ini menjadi sumber ketertarikan utama seluruh umat manusia di dunia. Jujur dari pengalaman pribadi, sekalinya orang pernah ngerasain yang namanya internet maka orang itu hampir pasti bakalan pengen lagi dan lagi bisa bergaul dengan yang namanya internet.

Kalau dipikir-pikir apa sih yang buat orang jadi gemar dengan internet? Well, kalau berdasarkan informasi yang gw baca dan hasil dari searchingsearching dari internet, juga, yang menjadi daya tarik paling besar dari internet adalah “informasi baru” yang dia tawarkan. Atau dalam bahasa Inggris di ucapkan “the novelty it present to us”.

Novelty atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai sesuatu yang bersifat baru, entah itu barang nyata atau barang maya (informasi, metode, sistem, jejaring), merupakan salah satu hal favorit manusia di dalam hidup ini selain dorongan primitif lain manusia untuk mempertahankan hidup (seks, makan dan minum, istirahat) karena dipercaya manusia juga mempertahankan hidupnya berdasarkan hal ini. Contoh paling mudah adalah manusia sangat menghargai adanya sumber pendapatan yang baru dan juga area kekuasaan yang baru (extension of  their comfort zone)  karena mereka merasa lebih aman dengan kelangsungan hidupnya. Karena kemampuannya untuk menghadirkan hal-hal yang baru tersebut, maka internet sangat amat digandrungi oleh banyak orang dewasa ini terutama bagi yang pernah mencicipinya dan pasti kalian yakin pernah ngeliat orang yang merangsa nelangsa dan galau tak berkesudahan karena internetnya mati.

Namun, hampir sama dengan semua teknologi yang pernah muncul di dunia ini, internet selain memiliki kegunaan bagi manusia juga memiliki dampak buruk bagi manusia. Mulai dari kecanduan, informasi yang berlebihan dan juga kenyataan yang semu yang membuat orang tidak tertarik lagi dengan dunia nyata. Salah satu hal yang menurut gw cukup membuat masalah dari internet adalah banjirnya informasi. Kalau kita misalkan informasi itu setetes embun maka internet itu layaknya keran yang aksesnya ke lautan. Banyak sekali informasi, mulai dari yang penting hingga tidak penting, yang kita cari sampai yang kita tidak cari, bisa didapatkan di internet. Ini gak bagus buat para penggunanya. Kenapa? well yang pertama adalah informasi yang gak berguna ini menjadi sampah bagi kita dan tentu akan menghabiskan waktu kita untuk menelannya. Namun yang lebih parah adalah apabila ternyata informasi ini membanjiri otak kita, maka hampir tidak ada tempat lagi untuk otak kita mengambil dan menampung informasi baru yang lebih penting.

Untuk mengatasi salah satu trik yang biasa gw pakai ketika mulai menjelajah dunia internet adalah mencoba membuat pertanyaan sebelum nanti terikat dengan semua yang ditawarkan internet. Pertanyaannya biasanya cukup simpel seperti:

  • Apa ini berkaitan dengan value yang gw pegang?
  • Ini ada gak dengan permasalahan gw hadapi sekarang?
  • Siapa yang nulis atau dari mana informasinya? Reliable kah?
  • Apa yang dikatakan tentang dunia dari informasi ini?
  • Bisa gak ini dicerna saat ini
  • etc

Nah ketika kita sudah mempunyai pertanyaan di atas, umumnya kita dapat menentukan apakah informasi ini penting atau tidak dan juga kita fokus pada bagian apa dari informasi ini. Dengan demikian kita dapat menghemat waktu mencerna informasi tersebut dan juga meningkatkan efisiensi penggunaan kapasitas otak dan energi kita untuk informasi jangka pendek maupun jangka panjang untuk kita. Lalu melatih otak untuk memiliki perbendaharaan pertanyaan tersebut bagaimana? Gampang-gampang susah sih. Intinya banyak membaca diwaktu luang, berinteraksi dengan orang lain, paparkan diri dengan hal baru dan gali semua nilai (merefleksikan) yang dapat kamu ambil dari semua hal tersebut. Nanti lama kelamaan perbendaharaan pertanyaannya juga pasti akan bertambah banyak dan semakin matang juga penilaian kita.

Being Bold, Being True

Most of the time we always being told about who we are actually. What we should do. How we should behave or think. What we should become in the future. The problem with this is that it disturb the process of us knowing ourselves. What value that actually and clearly we hold, what is our truly best trait, worst trait, obstacles (physically and mentally), what is our hobbies (I said it in plural form just in case). And believe me my friend when you don’t really know what actually constitutes you, you are actually in danger. We, the on-going-true-self-seeker-but-can’t-found-it-yet,  tend to walk in disarray. Unclear path, unclear destination which, in the end, will lead to disappointment. Heed this words. Failure is ok, it’s the law of nature when we lack of expertise in the area. But being unclear and disoriented is a poor thing. It wont help you anywhere. It will put you in circle en’route that lead to nowhere. Like running in a treadmill. You will get to nowhere.

So how do we try to find ourselves as fast as possible? Well, according to my experience there is some well proven way to help speed things up:

  1. Try to expose yourselves to many things. Even remotely alien things that you didn’t think of. It will help you to understand yourselves by seeing how did you respond when you were exposed to those things. Hit the gym. Meet the people. Join some group. Try new hobbies. Read those controversial books. Discuss with new people. Meet that girl. Fails and be vulnerable. A lot. The moment you do this you will able to evaluate your response and what you should do when you’re vulnerable like that next time. It is like killing two bees in a row. You got the knowledge of yourself and the knowledge of handling situation. The worst you could get is fail and it’s good if you can learn from that.
  2. Talk, discuss with people to hear their opinion about you. Now I know this is a bit contradictory with I’ve told you previously. But what I truly want you to do is to hear their opinion after you understand a bit about yourself. That way you could filter out whether their statement is wrong or precise. Whether you can use it or it is just a bluffing. Maybe there is some worthy advice also for us that can’t be implemented right now but sometimes in the future like how to talk with your SO or their relatives, etc
  3. Find friends. True friends that can support you. The friends that understand you a little bit more. The friends that you trust most. It can be anybody. Your gang, your mom/dad, your in-law or etc. That way when you find a roadblock or a mental block you can turn to them and ask for their advice. And you can get back to your sense again.

Well that’s all from me. I hope that this things work for you. Lastly, I hope if you find that this is useful please leave a comment bellow so I can know what is your opinion about what I write just above

In the end, I just wanna say thank you and hope you get a pleasant experience in your future endeavor. Peace out.

Count Thy Blessing

Adalah lumrah bagi manusia untuk mengalami  demotivasi dan kelesuan yang disebabkan berbagai faktor eksternal. Entah karena konflik dengan orang yang dikasihi, entah kebuntuan dalam hal karir dan pekerjaan, entah karena kegagalan yang berulang-ulang atau harapan yang seakan sirna. Kelumrahan ini menunjukkan sebagai manusia kita memang memiliki jiwa yang sebenarnya terpisah dengan fisik dan juga pikiran. (dikotomi pribadi).

Salah satu hal yang paling menggelikan dan membahayakan terkait demotivasi ini adalah ternyata kedua hal tersebut memiliki pengaruh besar bagi fisik dan pikiran kita. Pernah melihat seseorang yang menjadi sakit-sakitan karena patah hati? Atau karena punya konflik di tempat kerjanya? atau karena bisnisnya tidak berkembang? Tidak sedikit pasti. Dan umumnya hal tersebut menjalar kepada kita.

Hal ini juga saya sendiri rasakan. Entah karena patah hati atau karena kebuntuan di dalam pekerjaan, pengaruhnya cukup amat besar. Bahkan terasa oleh teman-teman di kantor (tidak sedikit yang bertanya-tanya). Lalu bagaimana mengatasinya? Sebenarnya sudah sering dan banyak bertebaran dimana-mana baik di internet, melalui orang tua, melalui guru maupun sahabat terdekat. Namun melalui tulisan ini saya akan membantu menyarikan apa saja hal esensial yang dapat dilakukan mengarungi demotivasi ini, yaitu:

  1. Bercerita dengan orang-orang yang memang dipercaya dan dapat diandalkan. Tidak selalu sahabat, namun orang yang tepat. Guru, orang tua, sahabat atau bahkan mantan sekalipun bisa (tapi jangan baperan juga). Dengan bercerita, maka beban psikologis akan semakin ringan karena minimal ada yang dikeluarkan dari dalam jiwa kita.
  2. Mencari masukan akan masalah kita. Umumnya hal ini juga didapatkan ketika kita bercerita masalah kita kepada orang lain. Masukan ini umumnya membantu mengaktifkan lagi akal sehat kita yang sudah cenderung kalut. Terkesan aneh memang, tapi entah kenapa ini yang saya alami ketika  bercerita dengan orang lain terkait masalah saya. Masalah yang kita hadapi akan semakin jelas, tindakan yang harus diambil juga semakin jelas, resiko yang dihadapi juga terlihat tanpa memberi beban yang berlebihan dan juga konsekuensi dari tindakan kita juga semakin jelas.
  3. Menyadari bahwa ada hal yang bisa kita ubah dan yang tidak bisa kita ubah. Ketika kita terdemotivasi umumnya kita akan fokus akan keadaan sekarang yang tidak menguntungkan kita dan berharap keras bahwa kondisi tersebut akan berubah. Namun kita lupa menyadari bahwa itu sudah terjadi. Ketika kita memikirkan hal tersebut justru akan semakin merusak jiwa kita sendiri. Justru yang perlu kita sadari adalah bahwa apa saja yang telah kita lakukan untuk mencapai hal tersebut dan aspek apa saja yang sebenarnya diluar kuasa kita sehingga kita bisa memetik pelajaran dari situ. Everything comes as a moment to be cherished or lesson to be learnt.
  4. Sadari bahwa untuk mengangkat diri kita kembali membutuhkan waktu (healing takes time). Jadi nikmati masa penyembuhan tersebut dan coba pelajari semua yang sudah dialami. Umumnya di dalam masa penyembuhan tersebut dapat kita isi dengan berbagai macam. Ada menulis (seperti yang saya lakukan ini), ada dengan menjadi sukarelawan, ada dengan mencari koneksi atau kesempatan baru (membuka pintu bagi diri sendiri), dan ada juga dengan meningkatkan skill diri (entah berbisnis, mengambil kursus atau gelar, dll).
  5. Dari semua hal tersebut, hal yang paling penting yang harus kita lakukan adalah bersyukur terus akan hal yang telah kita miliki dan mengerti betapa baiknya Sang Pemilik Kehidupan memberikan apa yang mungkin orang lain inginkan kita miliki saat ini. Sekecil apapun itu.

Dari semua hal ini, hal terakhir adalah hal yang sebenarnya berada di dalam kendali kita. Bersyukur. Mengerti kebaikan Sang Pemberi kepada kita. Dengan mengerti kebaikanNya justru kita dapat mengerti betapa kecilnya masalah kita saat ini dan apabila yang kemarin saja diberikan kepada kita masakan untuk masalah ini kita tidak diawasi. Andaikatapun kita terperosok terlalu dalam pun justru itu akan menjadi keuntungan buat kita karena kita sudah tidak perlu takut kehilangan hal yang lain dan tinggal hanya fokus untuk keluar dari lubang masalah kita. Dan itupun pasti diberikan kemampuan untuk kita.

Salam…

Menjual Ide Itu Sulit

Beberapa hari belakangan ini saya dan 2 orang teman saya (kami bertiga) mengikuti perlombaan inovasi di perusahaan kami. Apabila kami lolos maka ide inovasi kami akan ditiru dan diaplikasikan di perusahaan. Selain itu masing-masing dari kami akan diberikan hadiah sejumlah uang yang jumlahnya cukup besar.

Jujur saya dan tim sangat bersemangat akan kesempatan ini. Bahkan kami telah mencoba menggodok ide inovasi kami jauh-jauh hari ketika informasi akan perlombaan ini beredar. Setelah kami menemukan ide kami ini, kami bergegas untuk mendetilkan ide kami ini dan mempersiapkan bahan presentasi sebaik mungkin.

Berdasarkan pemantauan dan penilaian beberapa teman kami, ide ini dianggap cukup bagus dan cukup menarik. Hanya perlu penyempurnaan disana-sini sedikit. Namun, ketika dilihat hasil penilaiannya, ide inovasi kami cukup rendah. Bahkan dari pesaing kami yang idenya cukup bersinggungan.

Alhasil kami mencoba mencari tahu apa saja yang menyebabkan capaian kami cukup rendah dan didapatkan beberapa kesimpulan yaitu:

  • Presentasi kami kurang menarik

Memang kami mencoba menciptakan presentasi sebaik mungkin dan sekomplit mungkin. Namun, karena keterbatasan waktu sedang begitu banyaknya hal yang ingin disampaikan oleh kami, tidak semua dapat disampaikan bahkan presentasi kami kurang begitu menarik. Mengapa poin presentasi ini menjadi penting? Karena memang satu-satunya pintu gerbang agar audiens mengerti apa yang ingin kita sampaikan adalah melalui presentasi. Itu mengapa presentasi sangat penting, bahkan saking pentingnya Steve Job sendiri menghabiskan lebih dari ratusan jam hanya untuk menghasilkan satu presentasi. Ratusan jam, sendirian, fokus untuk presentasi tersebut.

  • Timing yang tidak pas

Kalau yang ini cukup menarik. Ini terkait masalah penentuan strategi yang akan kita tempuh untuk mencapai tujuan kita sembari melihat kondisi persaingan disekitar kita. Seperti yang telah diutarakan di atas, salah satu pesaing kami yang idenya cukup bersinggungan dengan ide kami namun mereka mendapatkan nilai jauh di atas kami. Salah satu penilaian kami ini disebabkan mereka mendapatkan kesempatan pertama untuk mempresentasikan ide terlebih dahulu dan dengan persiapan yang sedikit lebih matang. Karena timing yang pas itu, para dewan juri dapat memberikan nilai yang cukup tinggi bagi tim tersebut dan ketika kami mengajukan ide kami, terasa sudah usang sehingga nilainya lebih rendah dari pesaing kami. Hal ini juga banyak terjadi di industri musik dan industri film. Banyak produsen musik maupun film menunda ataupun memajukan tanggal rilis produk mereka demi mengejar timing yang tepat. Dengan perubahan tanggal rilis tersebut diharapkan agar produk yang mereka tawarkan tidak tertimpa oleh produk pesaing. Ini banyak terjadi dan memang harus kita pahami adalah sebuah keniscayaan.

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi teman-teman sekalian. Ditunggu masukan dan kritik membangunnya ya.

Menjadi Tangguh

Menurut saya, salah satu hal yang harus senantiasa kita awasi adalah perkembangan diri kita sendiri. Jikalau kita masih sama seperti kemarin kita harus mulai waspada. Was-was. Contoh saja misalnya sampai saat ini kita yang telah bekerja masih tidak sadar kemana uang pendapatan kita selama ini, amit-amit bahkan sampai kehidupan sehari-hari saja kita tidak sanggup menanggungnya (masih meminta bantuan orang lain). Lalu pertanyaannya kenapa kita sampai saat ini masih sulit atau terasa tidak berkembang sejauh yang kita harapkan. Umumnya alasannya cuma 1. Karena tantangan yang kita hadapi masih bisa kita lalui dengan mudah. We are still in our comfort zone. Not outside of it. Just on the boundaries, but still not outside of it. Ketika seseorang, atau seseorang mampu untuk mencoba hal baru dan belajar hal baru di luar area nyamannya sesungguhnya seseorang tersebut sudah mulai terbuka untuk mengembangkan dirinya, memahami siapa dirinya dan mempelajari hal-hal yang baru (stay up to date). Pengembangan diri ini akan menjadikan kita menjadi manusia yang lebih tangguh dan mungkin menjadi manusia yang lebih siap menghadapi dunia. Ingat pepatah jack of all trades, master of none are much more better than master of one.

Sungguh suatu kemalangan (in my own opinion) jikalau kita berleha-leha di area kenyamanan kita (red. comfort zone), apalagi di masa muda kita, masa-masa kita banyak menabur. Diri berhenti berkembang, tidak ada pelajaran baru yang dipahami dan juga kehilangan kesempatan untuk berkembang menjadi tangguh. Kalau sudah seperti ini, jangankan ingin memikirkan orang tua kita, memikirkan diri sendiri saja sudah kadung sedih bung. Maka dari itu jangan takut untuk keluar dari zona nyaman. Jangan ragu untuk melangkah ke tahap berikutnya. Stay hungry, stay foolish.

Rawwr